RONASENJA

berbagi segalanya untuk manfaat dan kebaikan

Surah Al-Fathihah (2)


Berdasar kandungan tematik yang ada di dalam surah al-Fatihah, terdapat uraian tentang:

  1. Tauhid, yang dikandung oleh ayat-ayatnya yang pertama dan kedua: Alhamdulillah rabbi al-‘alamin dan ar-Rahman ar-Rahim.
  2. Keniscayaan hari kemudian, yang dikandung oleh ayatnya yang keempat: Maliki yaum ad-din.
  3. Ibadah yang seharusnya hanya tertuju kepada Allah dikandung oleh ayat: Iyyaka na‘budu.
  4. Pengakuan tentang kelemahan manusia dan keharusan meminta pertolongan hanya
    kepada-Nya dalam ayat: Wa iyyaka nasta‘in, dan Ihdina ash-shirath al-mustaqim.
  5. Keanekaragaman manusia sepanjang sejarah menghadapi tuntunan Ilahi; ada yang menerima, ada yang menolak setelah mengetahui, dan ada juga yang sesat jalan, yaitu yang dikandung oleh ayat: Shiratha al-ladzina an‘amta ‘alaihim ghair al maghdhubi ‘alaihim wa la adh- dhallin.

Kelima hal pokok tersebut, yakni antara lain tauhid, keniscayaan hari kemudian, dan keikhlasan beribadah adalah dasar-dasar pokok ajaran al-Qur’an. Sedang uraian yang terdapat dalam surah-surah lain tentang alam, manusia, dan sejarah merupakan cara-cara yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk mengantar manusia meraih, menghayati, dan mengamalkan persoalan-persoalan pokok itu.

Tujuan Utama Uraian Surah Al-Fatihah

Tujuan utama surah ini mengundang, lalu memelihara kesadaran tentang kehadiran Allah dan pengawasan-Nya kepada manusia. Itu sebabnya setelah menguraikan tentang rahmat dan kasih sayang-Nya serta kuasa-Nya memberi balasan, ayat surah ini disusul dengan menghadirkan-Nya di hadapan siapa yang membaca Maliki yaum ad-Din, bahwa Dia Sang Penguasa Hari Kemudian selalu hadir dengan pengawasan dan pengetahuan-Nya terhadap seluruh kegiatan lahir dan batin makhluk, serta hadir pula dengan bantuan dan ganjaran-Nya bagi yang taat.

Kehadiran dan pengawasan-Nya itu dicerminkan lebih jauh dengan pengajaran bagaimana berdialog langsung dengan-Nya, Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in. Artinya, hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Redaksi tersebut dihadapkan langsung kepada Allah laksana bertatap muka dengan wajah-Nya. Makna tentang kehadiran, pengawasan, dan bantuan Ilahi itu tercermin pula dalam riwayat Imam Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lain-lain melalui AbuHurairah yang menyatakan bahwa Allah, dalam sebuah hadits Qudsi, berfirman: “Aku membagi shalat (al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan untuk hamba-Ku apa yang dimohonnya. Maka bila dia membaca: Alhamdu lillahi rabbi al-‘alamin, Allah menyambut dengan berfirman: “Aku dipuja oleh hamba-Ku.” Bila dia membaca: “Ar-Rahman ar-Rahim,” Allah berfirman: “Aku dipuji oleh hamba-Ku.”

Bila dia membaca: “Maliki yaum ad-din.” Allah berfirman: “Aku diagungkan oleh hamba-Ku.” Di kali lain Allah berfirman: Hamba-Ku berserah (diri) kepada-Ku, lalu bila dia membaca: “Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in, Allah berfirman: “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan buat hamba-Ku apa yang dimohonkan.”

Dan bila dia membaca: Ihdina ash-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an ‘amta ‘alaihim, ghairi al-maghdhub ‘alaihim wa la adh-dhallin, Allah berfirman: “Ini buat hamba-Ku, dan buat hamba-Ku yang dimohonkannya.”

Pelajaran yang bisa didapat dari Surah al-Fatihah  adalah :

  1. Ayat pertama dalam al-Fatihah, yakni Basmalah memberi pelajaran agar kita memulai setiap pekerjaan dengan mengucapkan Basmalah sehingga terjalin hubungan yang erat antara si pengucap/ pembaca dengan Allah swt, dan dengan penyebutan kedua sifat-Nya ar-Rahman ar-Rahim tertancap dalam hati si pembaca betapa besar rahmat Allah sehingga semestinya pembacanya tidak akan berputus asa betapapun berat dan sulit keadaan yang dihadapinya.
  2. Ayat kedua surah al-Fatihah, alhamdulillah yang artinya segala puji bagi Allah adalah pengajaran agar seseorang selalu menyadari betapa besar rahmat dan anugerah Allah kepada-Nya. Sehingga bila sesekali ia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya, maka ia akan teringat rahmat dan nikmat Allah yang selama ini dinikmatinya.
  3. Redaksi persona ketiga pada kalimat al-Hamdulillah dalam arti si pemuji tidak berhadapan langsung dengan Allah, memberi pelajaran bahwa memuji tanpa kehadiran yang dipuji lebih baik daripada memuji di hadapannya.
    Sedang ayat kelima, Iyyaka na‘budu dan Iyyaka nasta‘in, yang artinya hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, dikemukakan dalam bentuk persona kedua, dalam arti Allah hadir dan si pemohon berhadapan langsung dengan Allah.
    Ini karena dalam beribadah seseorang hendaknya bagaikan berhadapan langsung dengan-Nya. Inilah yang dimaksud oleh Nabi saw ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang makna al-Ihsan, yakni “Engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan bila tidak mampu melihat-Nya (dengan mata hatimu), maka ketahuilah bahwa Dia melihat-Mu”, (HR Bukhari melalui Umar Ibn al-Khaththab).
  4. Pernyataan bahwa Allah adalah Rabb al-‘alamin atau Tuhan Pemelihara seluruh alam memberi pelajaran bahwa Allah mengurus, memelihara, dan menguasai seluruh jagad raya.
  5. Firman-Nya bahwa Allah Pemilik Hari Kemudian mengajarkan antara lain bahwa kuasa-Nya ketika itu sangat menonjol sehingga tidak satu pun yang mengingkari-Nya, tidak juga seseorang dapat membangkang (berbeda dengan di dunia), sebagaimana ia mengajarkan juga bahwa tidak seorang pun yang dapat mengetahui kehidupan di sana kecuali bila diberi tahu melalui wahyu oleh Allah atau penyampaian nabi dan bahwa waktu kedatangan hari itu adalah suatu rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.
  6. Kata ‘kami’ pada ayat ke-5: “Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan,” mengandung beberapa pesan tentang kebersamaan antarumat yang menjadikan setiap Muslim harus memiliki kesadaran sosial, yang menjadikan keakuannya lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya. Setiap Muslim, dengan demikian, menjadi seperti satu jasad yang merasakan keperihan bila satu organ menderita penyakit.
  7. Ayat ke-7 surah ini mengajarkan agar menisbahkan segala yang baik kepada Allah swt, sedang yang buruk harus dicari terlebih dahulu penyebabnya. Ini dipahami dari penisbahan pemberian nikmat kepada-Nya; “Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat,” sedang menyangkut murka tidak dinyatakan: “Yang Engkau murkai,” tetapi “Yang dimurkai.”Demikian, Wa Allah A‘lam.

    (Selesai)

Sumber : Tafsir Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab

Agustus 15, 2010 - Posted by | Agama | , , ,

1 Komentar »

  1. saya menanyakan kpd muzu(mutiara zuhud) dlm koridor ilmu apakah bapak Quraisy syihab mentafsir surat Al-fatihah tsb?

    Komentar oleh nya.woeng | Agustus 16, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: