RONASENJA

berbagi segalanya untuk manfaat dan kebaikan

WISATA ALAM GUA NGERONG – Tuban


Taman Wisata Alam Gua Ngerong terletak di Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban. Lokasi ini bisa di lalui dari beberapa jalan, bisa melalui Tuban ataupun melalui Kabupaten Bojonegoro.

Lokasi wisata yang berjarak 20 Km dari Kabupaten Bojonegoro ini merupakan obyek wisata yang dikelola oleh Pemda setempat, dengan membeli tiket masuk sebesar beberapa ribu rupiah kita sudah dapat memasuki obyek wisata ini dan menikmati keindahan dan keajaiban dari sisi lain sekitar kita.

Letaknya cukup mudah dijangkau karena berada tepat di pinggir jalan besar, tetapi dengan minimnya area parkir membuat obyek wisata ini terkesan kurang fasilitas dalam hal per-parkiran mengingat letaknya yang tepat di pinggir jalan raya.

Obyek wisata ini berupa semua aliran air atau sungai yang menuju ke sebuah gua, konon katanya gua ini bisa tembus sampai dengan Kabupaten Tuban dan didalam gua tersebut terdapat binatang yang sangat besar yang belum jelas binatang apa itu. Gua ini dahulu digunakan sebagai rute pelarian oleh para pengungsi yang melarikan diri dari penjajah karena takut akan disiksa dan dipekerjakan secara paksa.

Gua yang berdiameter kira-kira 3 meter ini dipenuhi dengan banyak sekali kelelawar, yang merupakan daya tarik tersendiri dari gua tersebut. Dengan banyaknya kelelawar tersebut tak heran jika tercium aroma yang kurang sedap dari kotoran binatang tersebut dalam radius 10 meter mendekati lokasi gua. Pertama bagi yang baru datang pasti langsung akan merasa mual atau bahkan bagi yang tidak kuat akan muntah, tetapi setalah beberapa saat kita di area kelelawar tersebut kita akan terbiasa dan tidak merasakan aroma tidak sedap yang mengganggu, hal ini dikarenakan juga adanya angin yang selalu berhembus agak kencang disekitar lokasi kelelawar.

Jika di atas gua terdapat ribuan kelelawar, berbeda halnya dengan di bawah gua. Di bawah gua terdapat ribuan ikan mulai dari yang berukuran kecil hinggal yang berukuran sebesar paha orng dewasa. Di aliran sungai itulah ikan – ikan tersebut ber-habitat, dengan air nya yang jernih membuat kita bisa memanjakan mata kita dengan melihat tingkah polah ribuan ikan yang berlari-lari mengejar makanan yang kita lemparkan ke sungai. Makanan itu kita bisa peroleh karena banyak sekali para pedagang yang menjual makanan ikan di area tersebut, yang sedikit aneh adalah makanan ikan tersebut ada yang berupa biji buah kapuk, atau kalau orang jawa bilang adalah klentheng. Saling kejar dan saling berebut diantara ikan-ikan tersebut merupakan pemandangan yang lucu dan membuat kita bisa tersenyum dan ingin mengulanginya lagi. Kita juga bisa masuk kedalam sungai tersebut sambil memberi makan atau berenang sambil berusaha menangkap ikan, kedalaman sungai mulai dari 30 cm untuk yang terdangka dan sekitar 1 meter untuk bagian yang paling dalam.

Adapun sungai yang mengalir dari dalam goa ngerong yang dihuni oleh ribuan ikan tersebut memiliki mitos yang dipercayai warga sekitar bahwa jika kita memakan ikan dari sungai ngerong ini akan memberikan kita malapetaka yang dapat berujung kematian, dan hal ini membuat ikan-ikan yang hidup di sungai tersebut aman dari pancing dan jaring manusia.

Legenda dan mitos serta Asal mulanya

Kawasan gua ngerong saat ini, dulunya termasuk dalam kawasan Kerajaan Gumenggeng. Kerajaan ini sudah ada sejak jauh sebelum adanya Kerajaan Majapahit, yaitu sekitar 2000 tahun yang lalu. Kisahnnya, pada waktu Kerajaan Gumenggeng dilanda kekeringan yang teramat sangat sehingga menimbulkan rakyat kelaparan di mana-mana. Raja yang memimpin saat itu, yang bernama Raden Arya Bangah, bermimpi bahwa jika ada yang bersemedi di puncak gunung (saat ini bernama Desa Andhong), maka Kerajaan Gumenggeng akan selamat dari kekeringan. Jadi, diadakanlah sayembara. Dan bagi yang bersedia, akan dihadiahi tanah yang luas. Kemudian, muncullah seseorang yang bernama Kyai Jala Ijo. Ia memberikan persyaratan agar ditemani oleh dua orang pengawal kerajaan.

Setelah bertapa di Desa Andhong, Kyai Jala Ijo mendapatkan petunjuk bahwa ia harus menyungkil tanah di tempat tertentu di Kerajaan Gumenggeng (saat itu masih belum ada namanya). Akhirnya, dengan ditemani dua pengawalnya, jadilah ia menancapkan tongkatnya di tempat tersebut, lalu mencungkilnya. Setelah itu, dia segera berbalik pulang dan mengamanati kepada kedua pengawalnya untuk tidak menoleh ke belakang sama sekali. Tetapi, ketika berjalan pulang, salah satu pengawalnya menoleh ke belakang. Tiba-tiba, muncul seorang putri nan cantik rupawan yang menggoda pengawal itu, dan membawanya pergi, hilang sampai saat ini.

Sedangkan tanah yang tadinya dicungkil oleh Kyai Jala Ijo, menurut kepercayaan, kemudian mengeluarkan air dan berubah menjadi celah (gua) yang berbentuk menyerupai rong (terowongan/ lubang). Sehingga, tempat tersebut kini diberi nama Gua Ngerong.

Mitos atau cerita legenda jika kita mau mempelajari secara ilmiah kadang ia memiliki alasan rasional atas keberadaan mitos tersebut, pada tulisan ini yaitu mitos yang berkembang pada  Goa Ngerong di daerah Rengel Tuban, sebuah goa dengan mata air dan sungai yang keluar darinya. Jadi yang dibahas disini adalah rasionalisasi dibalik mitos yang ada, yaitu pelarangan memakan ikan dari sungai ngerong tersebut.

Jika kita tilik secara ilmiah makanan utama ikan tersebut adalah kotoran kelelawar yang banyak mengandung zat amonia NH3 yang sangat berbahaya bagi tubuh jika dimakan, jadi sangat rasional jika ada orang yang memakan ikan dari sungai ini dapat berujung pada kematian.

Namun hal ini tentu sangat susah dipahami oleh orang jaman dulu dan mereka dengan sangat canggihnya membungkusnya dalam sebuah cerita mitos yang melegenda yang tentu saja sangat masuk akal untuk pengetahuan manusia pada jaman tersebut.

Contoh diatas hanyalah sedikit dari mitos2 yang bisa saya jelaskan. Jadi melaluii tulisan ini saya mencoba mengajak Anda sekalian menyadari bahwa sesungguhnya dibalik suatu cerita mitos tersimpan makna filosofis yang tinggi sekali, dan mungkin belum dapat terjangkau akal sehat pada jaman dahulu. Tetapi, dibalik berbagai mitos tersebut, obyek wisata Gua Ngerong di Desa Rengel Kabupaten Tuban merupakan objek yang cukup menarik dan sayang jika dilewatkan ketika Anda berada di Tuban maupun Bojonegoro.

Demikian sedikit share dari saya semoga bermanfaat ! Selamat menikmati dan menelusuri indahnya dunia.

Oktober 13, 2010 - Posted by | wisata | , , , , ,

3 Komentar »

  1. mas klu setau saya desa yang buat semedi kyai jala ijo itu namanya ngandong bukan andhong….dan sampe saat ini bekas tempat semedi itu masih ada,….sekian terima kasih

    Komentar oleh Mas Eno | Oktober 8, 2011 | Balas

  2. kemunngkinan juga dulu masih pakek nama andhon,dan sekarang menjadi ngandong

    Komentar oleh rofik | Mei 14, 2012 | Balas

  3. saya suka dengan budaya jawa dalam menyampaikan suatu pesan pada seseorang ataupun masyarakat jawa pada umumnya penuh dengan estetika dan sarat akan makna yang terkandung di dalamnya.

    Komentar oleh anto mulyanto | November 18, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: